Hari Kebebasan Pers, Makam Udin Diziarahi
VIVAnews - Bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers
Sedunia yang jatuh pada hari ini, Kamis, 3 Mei 2012, Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) Yogyakarta melakukan ziarah ke makam Muhammad
Syafruddin alias Udin, wartawan Harian Umum Bernas, yang tewas pada 16
Agustus 1996. Sampai kini, kasus pembunuhan Udin ini masih gelap.
Sudah
16 tahun berlalu sejak Udin tewas, namun demikian polisi tak juga
berhasil mengungkap pelaku dan dalang pembunuhan yang diduga kuat
melibatkan pejabat tinggi era Orde Baru itu. Dua tahun lagi, kasus ini
pun kadaluarsa.
Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Eko Maryadi
menyatakan, kasus yang menimpa Udin adalah praktik impunitas yang
melindungi para pembunuh jurnalis jelas merusak kepercayaan publik
kepada aparat kepolisian.
"Kasus kematian wartawan di Bali yang
melibatkan pejabat tetap terungkap. Harusnya jika penegak hukum serius
maka kasus Udin tidak terancam kadaluarsa dan ditutup pada tahun 2014,"
katanya, Kamis, 3 Mei 2012.
Eko Maryadi menegaskan AJI sepakat
mendesak kepada Kapolri untuk mengambil alih serius atas kasus kematian
Udin hingga tuntas dan tanpa rekayasa. AJI menolak penghentian kasus
kematian Udin karena akan menjadi preseden buruk bagi aparat kepolisian.
"AJI
juga mendesak agar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia membentuk tim
khusus mengusut kematian Udin dengan turun langsung ke lapangan.
Kematian udin bukan kasus biasa namun kejahatan kemanusian," katanya.
Sementara
itu, Mujilah (74), orang tua Udin, mengatakan tak rela jika kasus
anaknya ditutup karena kadaluarsa. "Saya ingin tahu siapa pelaku dan
dalang pembunuh anak saya," kata Mujilah. Mujilah yakin, dalang kejadian
itu masih hidup.
Meski tak rela kasus kematian anaknya ditutup
karena kadaluarsa, Mujilah mengaku pasrah. Meski begitu, Mujilah meminta
rekan-rekan wartawan dapat memperjuangkannya.
Istri Almarhum
Udin, Marsiyem (45), mengatakan dirinya tak terima jika kasus yang
menimpa suaminya ditutup dengan alasan kadaluarsa. "Aparat kepolisian
harus mengungkap kasus kematian suami saya," ujar Marsiyem yang
dikaruniai 2 anak dari hasil pernikahan dengan Udin itu.
Marsiyem
mengaku paska kejadian dirinya sempat syok, namun seiring dengan waktu
dapat pulih kembali. "Anak saya yang kedua Zulkarnain Wikan Jaya ingin
menjadi jurnalis namun saya tak mengizinkannya. Saya masih trauma dengan
kejadian yang menimpa bapaknya," kata Marsiyem.
AJI Yogyakarta
bertepatan dengan hari Kebebasan Pers Sedunia juga menyerahkan santunan
pendidikan kepada putra dan putri almarhum. "Santunan ini tak seberapa,
namun kami berharap dapat sedikit membantu meringankan beban
pendidikan," ujarnya Ketua AJI Yogyakarta, Pito Agustin Rudiana. (umi)
- 16 kali dilihat



