Tumbuh di Era Digital
Banjir informasi yang kini tengah melanda masyarakat Indonesia, tidak membuat masyarakat makin cerdas dalam mengonsumsi informasi. Masyarakat cenderung hanya memilih informasi yang disukai, berita yang menguatkan pendapatnya atau opininya, dan cenderung tidak mengonsumsi informasi yang beragam.
Perang opini kini makin mendapatkan tempat di media, khususnya media sosial. Tulisan tak bertanggungjawab yang kemudian menjadi viral semakin marak. Menghadapi hingar bingar media sosial, kehadiran media arus utama yang tetap memegang teguh etik, menjadi makin penting untuk mengklarifikasi dan menjernihkan berbagai isu yang berkembang di media sosial.
Sejumlah isu penting yang seharusnya mendapat porsi utama di media massa, kurang mendapat perhatian. Seperti bagaimana media massa memberikan peliputan terkait isu tentang anak. Saat ini peliputan media tentang anak jumlahnya sangat minim, kalah jauh dibanding dengan liputan isu politik, ekonomi, hiburan hingga liputan olahraga yang terus mendapat porsi sangat besar.
Sejumlah media memberikan porsi peliputan tentang anak. Namun masih ada dengan perspektif tidak memberikan perlindungan pada korban dan memperhatikan kepentingan terbaik anak, terutama anak-anak korban kekerasan, atau 4 Kompilasi Tulisan Nominasi dan Pemenang Perhargaan Karya Jurnalistik Terbaiktentang Anak 2016 pelecehan. Akibatnya, anak menjadi korban dua kali. Pertama korban kekerasan, pelecehan dan kedua korban dari pemberitaan media yang tidak memiliki perspektif anak sehingga berdampak buruk kepada anak termasuk masa depan anaknya.
Di tengah hiruk pikuk pemberitaan yang tidak perspektif anak, tidak mengedepankan etika, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia kembali menggelar penghargaan liputan media terbaik tentang anak. Acara ini untuk mendorong para jurnalis baik cetak, online, televisi, radio hingga foto menghasilkan berita yang berkualitas, mendidik, kritis, taat kode etik, hingga memiliki perspektif keberpihakan kepada anak. Kami patut bangga karena penghargaan karya jurnalistik tentang isu anak ini telah berlangsung sejak 2006 dan bisa berkesinambungan hingga saat ini dengan mendapat dukungan penuh dari UNICEF.
Setiap tahun ratusan karya mengalir ke panitia, baik media nasional hingga media lokal. Baik dari media cetak, online, foto, televisi hingga radio. Untuk tahun 2016, panitia telah menerima 339 karya jurnalistik, yang terdiri dari 176 kategori cetak dan online, 85 karya kategori foto, 10 karya kategori radio dan 68 karya jurnalistik kategori televisi. Karya-karya tersebut sudah diterbitkan media massa dalam kurun waktu 15 Mei hingga 31 Oktober 2016.
Panitia telah melakukan seleksi ketat terhadap 339 karya para jurnalis. Seleksi karya melibatkan 16 anggota dewan juri dari para jurnalis senor, akademisi yang mempunyai perspektif pada isu anak hingga perwakilan lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak. Dari ratusan karya yang diterima, dewan juri memilih 10 nominasi karya terbaik dari berbagai kategori.
Hanya karya jurnalistik dengan liputan mendalam, taat kepada etik, serta memiliki perspektif keberpihakan kepada anak yang lolos sebagai nominasi. Khusus untuk tahun 2016 ini, ada 1 pemenang terbaik dari masing- masing kategori dan 1 pemenang special mention untuk Digital Safety and Child Online Protection. Sebanyak 40 karya jurnalistik para nominator dan penerima penghargaan akan dipamerkan selama 10 hari di Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta, untuk mendekatkan karya-karya jurnalistik tersebut dengan masyarakat.
- 81 kali dilihat





